ar
en
id

Bahasa:

Pendidikan Tidak Terlalu Buruk, Cuman Hanya Belum Maksimal. HARDIKNAS

HARDIKNAS

Hari ini tiba lagi. Hari Pendidikan Nasional. Spanduk/banner mulai terpajang di berbagai media sosial. Kata-kata besar diulang: *kemajuan, perubahan, masa depan.*

Di sebuah sekolah kecil, ada seorang guru berdiri di depan kelas. Dia tidak bersemangat membara, tapi diam-diam tabah. Di tangannya ada spidol. Tinta spidol itu mulai pudar. Ini seperti janji. Awalnya jelas, lalu perlahan hilang. Dia menulis di papan tulis: *“Masa Depan Dimulai dari Sini.”* Kemudian dia berhenti. Dia tahu, di luar sana tidak semua perjalanan ke “sini” itu mudah.

Di desa lain, pagi terasa lebih berat. Sekelompok anak berangkat sekolah. Mereka membawa tas dan keberanian. Beberapa anak berjalan di tepi sungai. Mereka harus melepas sepatu. Ada juga dari mereka naik ke baskom plastik. Mereka seperti naik perahu kecil. Mereka menyeberang perlahan. Mereka menjaga keseimbangan. Disitu ada antara harapan dan takut tenggelam. Dan ada juga anak lain memegang erat tali jembatan gantung. Mereka melangkah dengan hati-hati, karena papan jembatan sudah tua. Seolah ingin menyerah. Di bawahnya, air mengalir deras. Seolah menguji tekad mereka untuk belajar.

Mereka tidak membahas kurikulum. Mereka tidak mengerti istilah transformasi digital. Yang mereka tahu hanya satu: Hari Ini Harus Sampai Ke Sekolah.

Di tempat lain, pendidikan dibicarakan di ruangan ber-AC. Ada slide presentasi yang bagus dan menarik. Ada istilah-istilah canggih.
Pendidikan digambarkan sebagai jembatan ke masa depan. Tapi bagi sebagian anak, untuk mencapai jembatan saja, mereka harus mempertaruhkan nyawa.

Pemerintah tampak sibuk menetapkan tujuan baru. Istilah lama diubah. Program-program mendapat nama baru yang terdengar segar dan modern. Namun, perubahan ini terkadang terasa janggal. Situasinya mirip kapten kapal yang sering mengganti kompas, tapi para kru kapal tidak tahu harus mengikuti arah yang mana.

Lembaga pendidikan juga tidak luput dari keanehan ini. Beberapa lebih sibuk mengejar akreditasi. Mereka lupa kehidupan muridnya.
Mereka lupa ada anak yang belajar dengan kaki basah. Kaki mereka basah karena baru menyeberang sungai untuk bisa sampai ke sekolah.

Padahal sebenarnya, pendidikan adalah menumbuhkan arah dalam diri manusia. Ini bukan hanya soal apa yang diketahui. Ini soal bagaimana seseorang memahami hidupnya.

Tapi kita sering terpaku pada angka. Nilai seakan yang terpenting. Peringkat seakan tujuan akhir. Kita lupa, anak yang berhasil sampai sekolah saja itu sudah kemenangan. Jika dipikir lagi, pendidikan adalah perjalanan batin. Ini mengasah akal. Ini juga menata hati. Dalam agama, ilmu dan adab selalu bersama. Tanpa adab, ilmu bisa membuat sombong. Tanpa ilmu, adab bisa salah arah.

Gambaran sederhananya, kita membangun menara tinggi. Tapi kita lupa memperkuat pondasi. Kita ingin generasi hebat. Tapi kita lupa memastikan semua anak punya tempat sama untuk mulai melangkah.

Dan anak-anak yang menyeberangi sungai itu, mereka tidak menunggu sistem menjadi sempurna. Mereka terus berjalan. Menyeberang. Dengan segala keterbatasan mereka. Mungkin, merekalah yang paling mengerti arti pendidikan. Bukan soal siapa tercepat sampai. Tapi siapa yang tetap berjalan. Meski jalannya tidak pernah benar-benar ada.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar upacara. Ini adalah pengingat. Masih ada jarak sangat jauh antara kata dan kenyataan. Pendidikan tidak cukup hanya dirancang baik. Pendidikan harus dirasakan adil.

Dan di ruang kelas sederhana itu, guru tadi menghapus tulisannya. Dia menulis lagi. Kalimat yang lebih jujur muncul:

Jika Semua Anak Punya Jalan yang Sama, Mungkin Masa Depan Tidak Perlu Diperjuangkan Sekeras Ini.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal siapa yang paling tinggi. Tapi soal siapa yang tidak tertinggal sejak langkah pertama.

Penulis: MA

Tags :
Bagikan :