Matahari terbenam di padang pasir selalu menenangkan. Rasanya seperti seorang ibu yang menimang anaknya. Matahari turun perlahan. Tubuh yang seharian menahan lapar mulai bersuara pelan. Di waktu seperti itu, Rasulullah SAW tidak langsung makan besar. Beliau tidak memilih makanan yang sulit. Beliau hanya makan beberapa butir kurma. Kurma adalah buah kecil dari pohon di gurun. Pohon itu berdiri sabar di sana. Rasanya kurma itu seperti berbisik pada tubuh yang lelah. “Tenang, aku memberi energi yang lembut,” katanya.
Kesederhanaan kurma menyimpan banyak hal. Rahasia yang sering kita lupakan. Manis kurma itu halus. Gula alaminya masuk ke tubuh dengan sopan. Ia cepat memberi energi setelah lama berpuasa. Tubuh yang seperti kota tanpa listrik sejak pagi. Perlahan hidup kembali. Tidak meledak, tidak ramai. Hanya pelan-pelan kembali menyala. Ini menunjukkan kebijaksanaan yang halus. Sesuatu yang kecil bisa menghidupkan kembali badan.
Ada sedikit ironi yang jarang kita pikirkan. Di zaman sekarang, berbuka puasa jadi seperti pesta. Meja penuh makanan. Piring berjejer. Minuman berwarna-warni seperti pasar ramai. Padahal Rasulullah memulai buka puasa dengan hal sederhana. Kurma dan air saja. Sepertinya beliau mengajarkan sesuatu. Tubuh tidak perlu kemewahan setelah menahan diri seharian. Tubuh butuh keseimbangan. Keseimbangan antara lapar dan kenyang. Antara kebutuhan dan keinginan.
Kurma yang diam seperti guru ekonomi kehidupan. Ia mengingatkan kita. Berkah sering datang dari hal kecil. Rasulullah SAW tidak hanya contoh ibadah. Beliau juga mengajari cara mengelola tubuh. Mengelola kebutuhan dengan bijak. Jadi, setiap kurma saat berbuka bukan sekadar buah. Ia adalah simbol keseimbangan. Keseimbangan antara sederhana dan cukup. Antara rasa syukur dan kebutuhan manusia.
Penulis: M.A
