ar
en
id

Bahasa:

KAJIAN RUTIN KAMIS CIVITAS AKADEMIK UMU BUTON

UMU Online-Universitas Muslim Buton kembali menghadirkan sebuah ruang refleksi dan pencerahan yang berangkat dari kesadaran bahwa ilmu dan iman adalah dua sayap yang harus selalu bergerak seirama. Pada Kamis, 18 September 2025, selepas shalat Dzuhur, Masjid Baitul Hikmah UMU menjadi saksi hadirnya civitas akademika dalam program “Merangkai Cita-cita dari Mesjid”. Inisiatif ini merupakan bagian dari Level Up Thuesday Civitas Akademik UMU Buton, sebuah gerakan yang memadukan penguatan spiritual, pengembangan intelektual, dan pengasahan nilai-nilai kemanusiaan. Pada kesempatan ini, tampil sebagai pemateri adalah Ary Irjayanti Herman, S.Pd., M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMU, yang mengangkat tema singkat namun sangat dalam: “Komunikasi Efektif dalam Islam: Teladan Rasulullah sebagai Master of Communication.”

Suasana kajian kali ini begitu teduh. Jamaah yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan tampak menyatu dalam lingkaran ilmu yang penuh ketulusan. Tidak ada sekat antara pendidik dan peserta didik, antara pimpinan dan anggota, karena semua sama-sama hamba Allah yang merindukan pencerahan. Dari mimbar masjid, suara pemateri mengalir dengan jernih, membahas satu topik yang sesungguhnya menyentuh jantung peradaban: komunikasi. Sebab manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang saling bertukar pesan, menyampaikan gagasan, dan membangun makna. Komunikasi adalah jalan menuju pengertian, dan pengertian adalah dasar dari kebersamaan.

Rasulullah SAW, yang menjadi teladan utama umat Islam, adalah sosok yang tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga mampu mengomunikasikan pesan-pesan ketuhanan dengan cara yang paling efektif dan menyentuh hati. Beliau berbicara dengan kata-kata yang sederhana, tetapi mengandung kedalaman yang tak terhingga. Beliau tidak sekadar berbicara kepada telinga, tetapi menembus ke relung hati yang paling dalam. Dari tutur kata beliau, lahirlah peradaban. Dari kelembutan sikap beliau, lahirlah solidaritas. Dari senyum beliau, lahirlah harapan. Maka, layaklah beliau disebut sebagai master komunikasi, karena dalam setiap kata, isyarat, dan perbuatan, tersimpan seni menyampaikan pesan yang hidup abadi hingga hari ini.

Ary Irjayanti Herman menjelaskan bahwa komunikasi Rasulullah berakar pada kejujuran, empati, dan keberkahan. Kejujuran menjadikan pesan beliau dipercaya, empati membuat beliau mampu memahami siapa yang diajak bicara, dan keberkahan memastikan bahwa setiap kata yang keluar tidak hanya berdampak sesaat, melainkan berbekas hingga lintas generasi. Beliau tidak pernah berkata kecuali yang benar, tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyakiti, dan selalu memastikan bahwa komunikasi adalah jembatan, bukan tembok. Inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi kita, terutama di lingkungan akademik, bahwa kata-kata tidak boleh berhenti pada retorika, melainkan harus menghadirkan kejelasan, kebaikan, dan keteladanan.

Di dunia pendidikan, komunikasi bukan sekadar keterampilan tambahan, tetapi inti dari proses belajar. Seorang dosen yang menguasai materi tidak akan mampu menggerakkan hati mahasiswa jika ia gagal menyampaikannya dengan cara yang tepat. Sebaliknya, seorang pendidik yang penuh kasih, sabar, dan mampu berkomunikasi dengan baik akan lebih mudah diteladani, meski kata-katanya sederhana. Mahasiswa pun harus belajar bahwa komunikasi yang baik adalah modal utama untuk kepemimpinan, organisasi, dan pengabdian masyarakat. Ilmu yang tinggi tanpa kemampuan komunikasi hanya akan menjadi menara gading yang sulit dijangkau, sementara komunikasi yang baik akan menjadikan ilmu itu seperti mata air yang jernih, mengalir dan menyegarkan siapa saja yang haus akan pengetahuan.

Program kajian rutin ini membuktikan bahwa UMU Buton tidak hanya menekankan keunggulan akademik, tetapi juga ingin membangun karakter yang kokoh pada setiap insan kampusnya. Dari masjid, mahasiswa diajak merangkai cita-cita besar mereka. Dari mimbar, mereka diajak merenungi bahwa ilmu harus dibarengi dengan akhlak, dan komunikasi yang santun adalah salah satu bentuk nyata dari akhlak mulia. Di tengah derasnya arus informasi digital, di mana kata-kata bisa melukai atau membangun hanya dalam hitungan detik, tema ini terasa sangat relevan. Kajian ini mengingatkan bahwa kata-kata adalah cermin jiwa. Bila kata-kata baik terucap, jiwa pun akan tampak baik. Bila kata-kata buruk terlontar, jiwa pun ternodai.

Kegiatan ini juga menghadirkan semangat kebersamaan. Masjid tidak lagi sekadar ruang shalat, tetapi juga menjadi ruang belajar, ruang diskusi, ruang pembentukan karakter. Dari masjid inilah lahir ikatan hati yang kuat antara mahasiswa, dosen, dan pimpinan. Dari mesjid, kebersamaan itu dipupuk, dan dari kebersamaan lahirlah kekuatan untuk melangkah lebih jauh. Tidak berlebihan jika UMU Buton menyebut program ini sebagai salah satu laboratorium jiwa, tempat para insan akademik belajar menyelami diri, memperbaiki niat, dan memperkaya wawasan.

Pesan penting yang digarisbawahi dalam kajian ini adalah bahwa komunikasi dalam Islam bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral. Rasulullah telah menunjukkan bahwa sebuah kata dapat menjadi doa, sebuah kalimat dapat menjadi energi, dan sebuah pesan dapat mengubah jalan sejarah. Oleh karena itu, mahasiswa dan dosen UMU Buton diajak untuk menjadikan komunikasi sebagai amal jariyah. Kata-kata yang benar, santun, dan ikhlas akan terus hidup, meskipun penuturnya sudah tiada. Sebaliknya, kata-kata yang buruk dapat menjadi dosa yang membekas.

Melalui program “Merangkai Cita-cita dari Mesjid”, UMU Buton ingin membangun tradisi akademik yang tidak hanya mengejar angka dan prestasi, tetapi juga membangun kemanusiaan. Universitas ini percaya bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar kita, tetapi juga seberapa bijak kita dalam berkata-kata. Kata-kata yang tepat dapat merangkul, kata-kata yang santun dapat memperkuat, dan kata-kata yang penuh kejujuran dapat mempersatukan.

Kegiatan kajian rutin Kamis ini diharapkan menjadi energi baru bagi seluruh civitas akademika. Tema komunikasi efektif yang disampaikan dengan penuh ketulusan mengajarkan bahwa kita semua, baik sebagai pendidik maupun mahasiswa, memiliki tanggung jawab untuk menjaga kata-kata. Setiap kata yang keluar adalah pilihan, setiap kalimat adalah tanggung jawab, dan setiap komunikasi adalah cerminan diri. Dengan meneladani Rasulullah, kita belajar untuk tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar dengan hati, memahami dengan empati, dan menyampaikan dengan kasih.

Akhirnya, kegiatan  ini menegaskan kembali bahwa UMU Buton berkomitmen untuk menjadikan masjid sebagai pusat inspirasi dan transformasi. Dari masjid, cita-cita dirangkai. Dari kajian, hikmah ditumbuhkan. Dari komunikasi, peradaban dibangun. Dan dari teladan Rasulullah SAW, civitas akademika belajar menjadi manusia yang tidak hanya berilmu, tetapi juga bijak, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.

Wallahu a’lam.

Today’s Highlight UMU Buton

Tags :
Bagikan :