Di hampir seluruh kota, papan Mixue Ice Cream & Tea yang berwarna merah dulu menyala seperti lampu pesta. Logo boneka manusia salju di papan itu tampak tersenyum lebar. Senyum itu memanggil orang yang lewat. Mereka dijanjikan es krim murah dan minuman segar. Usaha ini tampak mudah dijalankan.
Gerai-gerainya tumbuh dengan cepat. Setiap ruko kosong berubah menjadi toko dingin. Toko-toko itu menjual rasa manis dan harapan. Kota itu jadi seperti taman musim dingin. Banyak manusia salju kecil tersebar di sana.
Tapi waktu selalu membuat segalanya seimbang. Lampu merah di beberapa tempat mulai meredup. Pintu kaca yang dulu sering terbuka kini lebih sering tertutup. Ada ironi yang terasa perlahan. Sesuatu yang populer bisa tenggelam oleh popularitasnya sendiri.
Terlalu banyak gerai berdiri berdekatan. Pelanggan yang sama harus dibagi ke banyak kasir. Manisnya pasar berubah jadi persaingan yang dingin. Ini seperti es krim yang mencair karena panas.
Beberapa pemilik gerai mulai merasakan hal ini. Bisnis yang tampak sederhana punya banyak biaya. Biaya sewa ruko terus ada. Mereka juga harus membayar royalti merek. Bahan baku harus dibeli dari pusat. Target penjualan tidak selalu sesuai kenyataan lokasi.
Semangat awal pemilik gerai mulai pudar. Arus pembeli pun ikut menurun. Produk yang sangat murah memang menarik banyak orang. Tapi untungnya kecil. Bisnis ini butuh banyak penjualan untuk untung. Jika penjualan turun sedikit saja, keuangan jadi goyah.
Akhirnya beberapa gerai memilih tutup. Penutupan itu terjadi lebih cepat dari perkiraan. Produknya bukan tak lagi disukai. Masalahnya adalah pasar sudah terlalu banyak gerai. Pesta yang terlalu ramai membuat tamu pulang.
Di balik kaca ruko yang kini sepi, manusia salju itu masih tersenyum. Senyumnya seolah mengingatkan. Dalam ekonomi, sesuatu yang tumbuh cepat bisa cepat diuji waktu.
Penulis: M.A
