UMU Online Baubau — Universitas Muslim Buton kembali menghidupkan ruang pembelajaran yang tidak berhenti pada teori kelas. Melalui Program Level Up Tuesday – Kelas Inspirasi UMU Buton, sesi Entrepreneur Wanted menghadirkan praktisi dan pemimpin institusi untuk berbagi pengalaman, perspektif, serta nilai-nilai kehidupan kepada mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, kegiatan tersebut dibawakan oleh Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton, Drs. H. Ibrahim Marsela, M.M., di Ballroom Al-Munawwara Universitas Muslim Buton.
Kegiatan Entrepreneur Wanted merupakan bagian dari desain pengembangan mahasiswa UMU Buton yang memadukan pendidikan akademik dengan pembentukan professional skill, future skill, dan human skill. Dalam dokumen arahan Program Kamisan Level Up, Kelas Inspirasi UMU Buton diarahkan untuk membangun mahasiswa melalui pengalaman akademik dan nonakademik, termasuk penguatan ETP, Entrepreneur Wanted, serta pengembangan karakter dan keterampilan abad ke-21.
Di hadapan mahasiswa baru, Ibrahim Marsela mengangkat tema “10 Langkah Naik Level dari Titik Nol”, sebuah materi yang menempatkan perjalanan mahasiswa bukan sekadar sebagai proses memperoleh ijazah, tetapi sebagai perjalanan membangun kualitas diri. Materi tersebut menegaskan bahwa setiap orang memiliki titik awal yang berbeda, tetapi titik awal bukanlah penentu akhir. Yang lebih menentukan adalah kemampuan seseorang mengambil kendali, belajar, membangun kompetensi, menciptakan karya, memperluas relasi, dan terus bertumbuh.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa baru yang sedang memasuki lingkungan pendidikan tinggi. Masa awal kuliah merupakan fase adaptasi yang sangat penting. Dalam rancangan pengembangan mahasiswa UMU Buton, semester pertama dan kedua ditempatkan sebagai fase adaptasi lingkungan, sebelum mahasiswa memasuki fase aktif berorganisasi dan kemudian fokus menyelesaikan pendidikan sarjana.
Ibrahim Marsela mengawali materinya dengan ajakan agar mahasiswa berhenti mengasihani diri dan mulai mengambil kendali atas kehidupannya. Menurut kerangka materi yang disampaikan, mahasiswa tidak boleh terlalu lama terjebak pada keterbatasan, keadaan, ataupun alasan. Masa depan membutuhkan keputusan dan tindakan. Karena itu, mahasiswa didorong untuk melihat kondisi secara realistis, bertanya apa yang dapat dilakukan, kemudian mulai bergerak dari apa yang tersedia.
Langkah berikutnya adalah membangun ritme hidup. Kehidupan mahasiswa, menurut materi Entrepreneur Wanted, membutuhkan disiplin, pengelolaan waktu, kebiasaan belajar, serta konsistensi. Bangun lebih awal, belajar setiap hari, menyelesaikan pekerjaan, dan menjaga rutinitas mungkin tampak sederhana, tetapi dari kebiasaan tersebut karakter dan produktivitas dibangun. Dokumen materi juga menempatkan disiplin sebagai salah satu fondasi penting perjalanan mahasiswa dari titik awal menuju perkembangan diri.
Pesan berikutnya adalah menguasai skill yang dibutuhkan pasar. Ibrahim Marsela mengajak mahasiswa memahami bahwa dunia kerja dan dunia usaha membutuhkan kompetensi yang dapat diterapkan. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Mereka perlu mengenali kebutuhan masyarakat, industri, dunia kerja, perkembangan teknologi, kemudian memilih keterampilan yang relevan dan melatihnya melalui praktik.
Dari sinilah Entrepreneur Wanted ditempatkan sebagai ruang untuk mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman praktis. Mahasiswa tidak hanya mendengar teori kewirausahaan, tetapi diajak memahami bagaimana sebuah gagasan dapat dimulai, diuji, diperbaiki, dan dikembangkan. Materi UMU Buton menekankan pentingnya memulai dari proyek kecil, karena pengalaman lahir dari keberanian melakukan sesuatu. Proyek kecil dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan, membangun portofolio, melakukan kesalahan, mengevaluasi hasil, dan kemudian meningkatkan skala secara bertahap.
Dalam konteks mahasiswa, proyek kecil tersebut dapat berbentuk kegiatan organisasi, usaha mahasiswa, karya digital, penelitian sederhana, kegiatan sosial, proyek kewirausahaan, maupun karya sesuai kompetensi program studi. Yang terpenting bukan seberapa besar proyek tersebut dimulai, melainkan adanya keberanian untuk mengubah gagasan menjadi tindakan.
Ibrahim Marsela juga menekankan pentingnya personal branding. Di tengah persaingan yang semakin terbuka, mahasiswa perlu memiliki identitas kompetensi yang jelas. Personal branding bukan sekadar popularitas di media sosial, tetapi dibangun melalui kompetensi, karakter, karya, dan reputasi. Mahasiswa perlu menunjukkan kemampuan melalui karya nyata dan membangun kepercayaan secara konsisten.
Setelah kompetensi dan reputasi dibangun, mahasiswa perlu membangun relasi. Dunia profesional dan kewirausahaan tidak berkembang dalam ruang yang sepenuhnya individual. Relasi membuka wawasan, mempertemukan pengalaman, menghadirkan kolaborasi, dan membuka kesempatan. Namun, relasi yang sehat tidak dibangun sekadar untuk memperoleh keuntungan pribadi. Ia dibangun melalui kepercayaan, integritas, komunikasi, serta kesediaan untuk saling memberi nilai.
Mahasiswa juga perlu memiliki daya tahan. Jalan pendidikan, pekerjaan, maupun kewirausahaan tidak selalu berlangsung mulus. Penolakan, kritik, kegagalan, tekanan, dan kesalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Dalam materi Entrepreneur Wanted, kegagalan tidak ditempatkan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi dan melanjutkan langkah.
Menariknya, “aset” dalam materi tersebut tidak semata-mata dimaknai sebagai kekayaan material. Ilmu, skill, reputasi, relasi, pengalaman, dan nilai diri juga merupakan aset yang harus dibangun sejak mahasiswa. Aset-aset tersebut dapat terus berkembang dan menjadi modal penting ketika mahasiswa memasuki dunia profesional maupun membangun usaha.
Karena itu, mahasiswa UMU Buton didorong untuk mengubah cara berpikir. Berpikir positif, terbuka, kritis, solutif, dan bertumbuh menjadi bagian penting dari proses naik level. Mahasiswa tidak hanya diajak melihat persoalan, tetapi mencari peluang dan solusi. Tidak hanya menerima informasi, tetapi mampu memeriksa dan mempertimbangkannya. Tidak hanya memiliki kemampuan hari ini, tetapi memiliki kemauan untuk terus belajar.
Pada bagian akhir, Ibrahim Marsela mengingatkan mahasiswa agar jangan cepat puas. Pendidikan tinggi bukan garis akhir, melainkan salah satu tahap penting dalam perjalanan kehidupan. Mahasiswa perlu terus meningkatkan standar, mencari tantangan, mengevaluasi diri, dan mengejar kemajuan. Dalam materi yang disampaikan, keberhasilan tidak dipandang sebagai kondisi berhenti, tetapi sebagai momentum untuk memasuki tingkat pertumbuhan berikutnya.
Pesan Entrepreneur Wanted tersebut sekaligus memperkuat arah pendidikan UMU Buton yang ingin mengembangkan mahasiswa secara lebih utuh. Dalam arahan Program Kamisan Level Up, mahasiswa dikembangkan melalui tiga lapis keterampilan, yaitu professional skill, future skill, dan human skill, serta keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, bahasa Inggris, literasi digital, kemauan belajar, dan karakter.
Bagi UMU Buton, keberadaan Entrepreneur Wanted bukan sekadar kegiatan motivasi. Program ini menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang mempertemukan kampus, pengalaman praktisi, keterampilan, karakter, dan orientasi masa depan. Mahasiswa diarahkan untuk memahami bahwa gelar sarjana harus berjalan bersama kompetensi dan kemampuan memberikan nilai.
Pertemuan tersebut akhirnya membawa satu pesan utama kepada mahasiswa baru: jangan takut memulai dari titik nol. Tidak semua mahasiswa datang dengan kondisi, pengalaman, jaringan, atau kemampuan yang sama. Namun setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk membangun dirinya melalui proses yang disiplin dan konsisten.
Dari titik nol, mahasiswa dapat membangun ilmu. Dari ilmu, lahir keterampilan. Dari keterampilan, lahir karya. Dari karya, tumbuh reputasi dan kepercayaan. Dari kepercayaan, terbuka relasi dan peluang. Dari peluang, mahasiswa dapat menciptakan nilai bagi dirinya, masyarakat, dan bangsa.
Inilah substansi Entrepreneur Wanted dalam Program Level Up UMU Buton: bukan sekadar mengajarkan bagaimana menjadi pengusaha, tetapi membangun manusia yang berani memulai, mampu belajar, siap menghadapi perubahan, memiliki karakter, dan mampu menciptakan nilai.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk memiliki kemampuan membaca peluang, menciptakan karya, membangun usaha, berkolaborasi, dan memberi manfaat.
Mulai dari diri. Bangun disiplin. Kuasai skill. Ciptakan karya. Bangun kepercayaan. Perluas relasi. Hadapi tantangan. Bangun nilai diri. Ubah cara berpikir. Jangan berhenti bertumbuh.
Berilmu • Berakhlak • Berkarya untuk Negeri.






