UMU Online – Universitas Muslim Buton menyelenggarakan kegiatan rutin mingguan Sharing Knowledge dalam rangkaian Program Level Up Tuesday yang berlangsung di Ballroom Al-Munawwarah UMU Buton, Kamis, 18 Juni 2026. Kegiatan yang dihadiri oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa ini menghadirkan Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton, Drs. Ibrahim Marsela, MM, yang membawakan materi bertajuk “Merangkai Cita-Cita dari Masjid”. Tema tersebut tidak hanya mengandung pesan spiritual, tetapi juga menghadirkan perspektif akademik dan peradaban tentang bagaimana masjid dapat menjadi titik awal lahirnya generasi unggul yang mampu membangun masa depan bangsa.
Menurut beliau, pelajaran penting yang dapat diambil oleh generasi masa kini adalah bahwa cita-cita besar tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari proses pembinaan diri yang berkelanjutan. Cita-cita memerlukan fondasi nilai yang kuat. Karena itu, masjid harus kembali ditempatkan sebagai ruang pembentukan karakter yang mampu melahirkan generasi berintegritas, generasi pembelajar, dan generasi pemimpin masa depan.
Dalam forum tersebut, beliau menghubungkan tema “Merangkai Cita-Cita dari Masjid” dengan visi besar Universitas Muslim Buton tahun 2020–2040, yaitu membangun insan unggul, berakhlakul karimah, dan berwawasan entrepreneurship. Menurutnya, visi tersebut bukan sekadar pernyataan kelembagaan, melainkan arah pembangunan manusia yang harus diwujudkan secara sistematis melalui pendidikan, pembinaan karakter, dan penguatan budaya akademik.
Beliau menjelaskan bahwa insan unggul tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual. Dunia modern telah membuktikan bahwa kecerdasan tanpa karakter dapat melahirkan penyimpangan, sementara karakter tanpa kompetensi tidak akan mampu menghasilkan perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, pembangunan manusia harus dilakukan secara utuh dengan memperkuat kapasitas, karakter, dan kebermanfaatan dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Dalam perspektif UMU Buton, insan unggul dibangun melalui tiga pilar utama. Pilar pertama adalah pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Pilar ini menekankan pentingnya kompetensi, kemampuan berpikir kritis, adaptabilitas terhadap perubahan, inovasi, produktivitas, dan daya saing. Menurut beliau, dunia saat ini memasuki era kompetisi global yang semakin kompleks. Generasi muda tidak lagi bersaing hanya dengan individu di lingkungan sekitarnya, tetapi juga dengan sumber daya manusia dari berbagai negara yang memiliki akses terhadap teknologi dan informasi yang sama. Karena itu, mahasiswa harus memiliki komitmen yang kuat untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan mengembangkan keunggulan kompetitif.
Pilar kedua adalah pembangunan karakter berakhlakul karimah. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian akademik atau ekonomi, tetapi juga dari kualitas moral seseorang. Akhlak merupakan fondasi yang menentukan arah penggunaan ilmu dan kekuasaan. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan integritas, amanah, keadilan, dan ketakwaan, maka ilmu tersebut akan menjadi instrumen kemaslahatan. Sebaliknya, ketika ilmu dilepaskan dari nilai-nilai moral, maka ia dapat menjadi sumber kerusakan yang merugikan masyarakat.
Beliau mengingatkan bahwa dunia modern sedang menghadapi berbagai krisis yang pada dasarnya berakar pada krisis moral. Kemajuan teknologi yang luar biasa tidak selalu diikuti oleh kemajuan etika. Oleh karena itu, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial yang tinggi.
Pilar ketiga adalah pembangunan wawasan entrepreneurship. Menurut beliau, kewirausahaan bukan hanya tentang kemampuan menghasilkan keuntungan ekonomi, melainkan tentang kemampuan menciptakan nilai, menghadirkan solusi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Seorang entrepreneur sejati adalah individu yang mampu melihat peluang di tengah tantangan, menghadirkan inovasi di tengah keterbatasan, serta menciptakan perubahan yang berdampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks tersebut, beliau mengajak mahasiswa untuk tidak hanya bercita-cita menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta lapangan kerja. Generasi muda harus memiliki keberanian untuk bermimpi besar dan kesiapan untuk bekerja keras mewujudkan mimpi tersebut. Masa depan tidak akan berubah hanya karena keinginan, tetapi berubah karena adanya visi yang jelas, kerja yang terencana, dan ketekunan dalam menjalankan proses.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa visi UMU Buton diperkuat oleh konsep Tiga Pilar Kecerdasan yang menjadi fondasi pembentukan karakter mahasiswa. Pilar pertama adalah kecerdasan intelektual yang melahirkan kompetensi. Pilar ini berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis, analitis, sistematis, kreatif, dan inovatif. Pilar kedua adalah kecerdasan emosional yang melahirkan harmoni. Dalam kehidupan modern, kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, berempati, dan mengendalikan diri merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan seseorang. Sementara itu, pilar ketiga adalah kecerdasan spiritual yang melahirkan integritas. Kecerdasan spiritual membentuk manusia yang bertauhid, ikhlas, amanah, memiliki integritas, rendah hati, dan memiliki semangat pengabdian.
Menurut beliau, perpaduan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual akan melahirkan manusia yang utuh. Manusia yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga mulia dalam berperilaku dan kuat dalam memegang prinsip kehidupan. Inilah karakter insan UMU Buton yang diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, beliau juga menguraikan filosofi 3M UMU Buton yang menjadi identitas intelektual kampus, yaitu Al-Mufakkir, Al-Munadin, dan Al-Muslih. Al-Mufakkir menggambarkan sosok pemikir yang mampu melahirkan gagasan dan inovasi. Al-Munadin menggambarkan sosok penggerak yang mampu mengorganisasi energi sosial dan memimpin perubahan. Sedangkan Al-Muslih menggambarkan sosok pembaru yang menghadirkan kemaslahatan dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Menurut beliau, filosofi tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tema Merangkai Cita-Cita dari Masjid. Dari masjid lahir pemikiran yang mencerahkan, dari masjid lahir gerakan yang membangun perubahan, dan dari masjid pula lahir kemaslahatan yang memperkuat peradaban. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi ruang pembentukan intelektual, ruang pengembangan kepemimpinan, dan ruang lahirnya gagasan-gagasan transformasional.
Menutup pemaparannya, Drs. Ibrahim Marsela mengajak seluruh sivitas akademika UMU Buton untuk menjadikan masjid sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan. Menurutnya, cita-cita yang besar harus dibangun di atas fondasi iman yang kuat, ilmu yang luas, dan akhlak yang mulia. Ketika ketiga unsur tersebut bertemu dalam diri seseorang, maka akan lahir generasi yang mampu membawa perubahan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah, bangsa, dan kemanusiaan.
Beliau menegaskan bahwa masa depan Kepulauan Buton membutuhkan generasi yang mampu berpikir sebagai Al-Mufakkir, bergerak sebagai Al-Munadin, dan berkarya sebagai Al-Muslih. Generasi yang unggul dalam ilmu, mulia dalam akhlak, dan luas dalam manfaat. Generasi yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan kemajuan bagi masyarakat dan peradaban. Dari masjid lahir nilai, dari nilai lahir karakter, dari karakter lahir cita-cita, dan dari cita-cita yang diperjuangkan dengan ilmu, iman, serta pengabdian akan lahir masa depan yang lebih bermartabat bagi Buton, Indonesia, dan dunia.
Tekan tombol like jika kamu suka postingan ini !!!






