Baubau – Di era digital, derasnya arus informasi sering kali membuat masyarakat kesulitan membedakan mana berita benar dan mana yang palsu. Fenomena ini menjadi perhatian serius dalam Kajian Rutin Kamis yang diselenggarakan Lembaga Kajian Islam dan Aswaja (LKIA) Universitas Muslim Buton pada 28 Agustus 2025 di Masjid Baitul Hikmah Universitas Muslim Buton.
Kajian bertema “Hoaks dan Berita Palsu: Perspektif Islam dalam Kehidupan Sehari-hari” ini menghadirkan narasumber La Ali, S.Pd., M.Sos., Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muslim Buton.
Dalam penyampaiannya, La Ali menekankan bahwa banyak informasi di media sosial tidak sesuai dengan kenyataan. “Ketika kita tidak selektif memilah berita, maka dapat mengacaukan setiap lini kehidupan kita. Islam selalu menekankan pentingnya tabayun agar tidak terjadi konflik,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat agar berperan aktif mengingatkan sesama untuk tidak mudah menerima dan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. “Jadikan prinsip tabayun dan kejujuran sebagai landasan hidup,” tambahnya.
Pandangan ini diperkuat oleh La Junuru, S.IP., M.I.P. yang menekankan pentingnya literasi digital dalam mengenali ciri-ciri berita hoaks dan palsu.
Sementara itu, Rektor Universitas Muslim Buton, Dr. H. Sudjiton, SE., M.M., menambahkan bahwa fenomena hoaks bukan hanya terjadi di era digital sekarang. “Hoaks sudah ada sejak masa Rasulullah, bahkan jauh sebelum itu,” tegasnya.
Melalui kajian ini, Universitas Muslim Buton berharap masyarakat semakin bijak dalam bermedia sosial, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan, serta menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman utama dalam menyikapi berita palsu.
