ar
en
id

Bahasa:

MERANGKAI CITA-CITA DARI MESJID (NGAJI & KAJIAN)

UMU Online-Universitas Muslim Buton kembali menorehkan langkah penting dalam menguatkan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan emosional civitas akademikanya melalui kegiatan Merangkai Cita-Cita dari Mesjid. Program ini dilaksanakan pada Kamis, 02 Oktober 2025, dimulai dengan sholat Dzuhur berjamaah di Mesjid Baitul Hikmah Kampus UMU Buton, yang kemudian dilanjutkan dengan acara ngaji bersama dan kajian di Ballroom Al-Munawwara Universitas Muslim Buton.

Kegiatan ini menghadirkan seluruh elemen universitas, mulai dari Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton, Ketua Lembaga Kajian Islam dan Aswaja, para pejabat struktural, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa UMU Buton. Dengan kehadiran lintas unsur ini, terlihat jelas komitmen universitas dalam menjadikan kegiatan spiritual sebagai bagian integral dari kehidupan akademik dan pembinaan karakter.

Kajian kali ini mengangkat tema Aurat dalam Pandangan Islam dengan pemateri Ibu Siti Hermayanti Kaif, S.Pd., M.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan. Aurat merupakan salah satu topik mendasar dalam ajaran Islam yang tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga erat kaitannya dengan moralitas, martabat, serta identitas seorang Muslim dalam kehidupan sosial.

Rangkaian acara diawali dengan kebersamaan yang penuh makna, yakni sholat Dzuhur berjamaah di Mesjid Baitul Hikmah. Momen ini menjadi simbol penting bahwa seluruh langkah akademik di UMU Buton harus selalu diawali dengan doa dan ibadah kepada Allah SWT. Dari mesjid, kekuatan spiritual ditanamkan, lalu dibawa ke ruang kajian untuk menguatkan pemahaman dan wawasan keagamaan.

Setelah sholat berjamaah, kegiatan berlanjut di Ballroom Al-Munawwara dengan pembacaan bersama Surah An-Nur ayat 31–35. Ayat-ayat ini membicarakan tentang kesucian diri, perintah menjaga pandangan, serta kewajiban menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan. Kehadiran ayat tersebut menjadi pintu masuk yang penuh hikmah menuju materi kajian utama.

Dalam arahannya, Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton menegaskan kembali visi besar UMU Buton yang berlandaskan tiga kata kunci: Ilmu, Akhlak, dan Entrepreneurship. Menurut beliau, ilmu merupakan dasar untuk membangun kecerdasan intelektual, akhlak membentuk kecerdasan spiritual, sementara entrepreneurship menumbuhkan kecerdasan emosional dengan melatih semangat pantang menyerah dan daya juang tinggi. Tiga hal ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena pendidikan sejati bukan hanya mencetak sarjana yang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter dan tangguh.

Lebih jauh beliau menekankan bahwa kegiatan ngaji dan kajian kali ini merupakan implementasi nyata dari visi UMU Buton, khususnya dalam aspek kecerdasan spiritual. Dengan kecerdasan spiritual, seorang akademisi tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Ketua Lembaga Kajian Islam dan Aswaja yang memandu jalannya kegiatan menambahkan bahwa mesjid sejatinya adalah pusat peradaban Islam. Dari mesjid lahir generasi berilmu, berakhlak, dan berjiwa kepemimpinan. Oleh sebab itu, kegiatan ini diberi tajuk Merangkai Cita-Cita dari Mesjid, karena cita-cita besar civitas akademika UMU Buton harus lahir dari kekuatan spiritualitas yang bersumber dari mesjid.

Materi kajian yang disampaikan oleh Ibu Siti Hermayanti Kaif mengalir dengan sederhana, menyentuh aspek teologis sekaligus praktis. Beliau menjelaskan bagaimana Islam memandang aurat bukan hanya sebatas pakaian, melainkan juga kesadaran menjaga diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan ke dalam perbuatan tercela. Menurutnya, aurat adalah simbol kehormatan seorang Muslim, sehingga menjaganya berarti menjaga martabat diri sekaligus keluarga dan masyarakat.

Kajian ini semakin hidup dengan adanya sesi tanya jawab yang membuka ruang dialog antara mahasiswa, dosen, dan pemateri. Pertanyaan yang muncul beragam, mulai dari praktik keseharian dalam menjaga aurat, tantangan gaya hidup modern, hingga peran pendidikan dalam menanamkan kesadaran berbusana Islami sejak dini. Diskusi tersebut memperkaya wawasan sekaligus menguatkan komitmen bersama untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan nyata.

Kegiatan Merangkai Cita-Cita dari Mesjid tidak hanya menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan universitas. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa hadir bersama tanpa sekat, duduk sejajar dalam satu majelis ilmu. Hal ini menegaskan bahwa UMU Buton adalah rumah besar yang memupuk kebersamaan, kesetaraan, dan semangat gotong royong dalam suasana kekeluargaan.

Dalam penutupannya, Ketua Yayasan kembali mengingatkan bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan di UMU Buton harus selalu mengarah pada pencapaian visi besar universitas. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan juga proses pembentukan manusia yang utuh: cerdas pikirannya, bersih hatinya, dan tangguh semangatnya. Kegiatan kajian rutin seperti ini adalah bagian dari ikhtiar membangun manusia seutuhnya yang akan menjadi kebanggaan bangsa dan umat.

Dengan berakhirnya acara, seluruh peserta membawa pulang bukan hanya tambahan ilmu, melainkan juga energi spiritual yang menguatkan langkah mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dari sholat berjamaah di Mesjid Baitul Hikmah hingga kajian di Ballroom Al-Munawwara, Universitas Muslim Buton membuktikan bahwa ilmu dan akhlak harus selalu berjalan beriringan.

Dari mesjid, cahaya ilmu dan akhlak dipancarkan. Dari mesjid pula, cita-cita besar civitas akademika UMU Buton dirangkai untuk melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, dan berjiwa wirausaha. Dengan sinergi ini, UMU Buton optimis mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi agama, bangsa, dan peradaban dunia.

Tags :
Bagikan :