UMU Online- Baubau 23 september 2025 Universitas Muslim Buton terus menunjukkan komitmennya dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang terarah, berkualitas, dan berorientasi pada pembentukan karakter mahasiswa. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan sharing session yang dilaksanakan di Ballroom Al-Munawwara UMU Buton, dengan agenda utama pembahasan penempatan Mata Kuliah (MK) Wajib Nasional dan Wajib Institusi dalam kurikulum, khususnya pada semester awal (semester 1–3). Kegiatan strategis ini dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UMU Buton serta dihadiri langsung oleh Presiden UMU Buton, Kepala Biro 1, para Dekan fakultas, Ketua Program Studi, dan perwakilan lembaga terkait di lingkungan universitas.
Forum ini dilaksanakan dengan tujuan memastikan bahwa kurikulum UMU Buton tidak hanya memenuhi standar nasional pendidikan tinggi, tetapi juga mampu menanamkan dasar-dasar analitik dan akhlak yang kuat sejak mahasiswa memasuki dunia kampus. Dengan demikian, mahasiswa tidak sekadar diarahkan untuk menjadi individu yang unggul dalam aspek kognitif, tetapi juga memiliki integritas moral, kepribadian yang matang, serta kesiapan menghadapi tantangan sosial di masa mendatang.
Dalam arahannya, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan menekankan bahwa penempatan MK Wajib Nasional antara lain Pancasila, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Agama-serta MK Wajib Institusi-seperti Kewirausahaan, Leadership, Organisasi Kegiatan Kemahasiswaan (OKK), Ekonomi Maritim, dan Studi Islam Aswaja di semester 1 hingga 3 merupakan langkah yang sangat penting. Menurut beliau, semester awal merupakan fase fundamental dalam pembentukan pola pikir mahasiswa, di mana orientasi belajar, kedisiplinan akademik, serta nilai-nilai moral dapat ditanamkan secara sistematis.
Presiden UMU Buton dalam sambutannya juga menegaskan bahwa universitas memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan manusia seutuhnya. Ia menyampaikan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan tanpa disertai akhlak hanya akan menimbulkan kerentanan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu pengetahuan akan kehilangan daya guna dalam menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, UMU Buton berkomitmen untuk menyinergikan keduanya dalam satu kerangka kurikulum yang terarah. “Kita ingin agar mahasiswa UMU Buton tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berakhlak mulia, cerdas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan agama,” ungkapnya.
Forum sharing session ini juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara kegiatan akademik dan non-akademik. Tugas-tugas non-akademik yang diberikan kepada mahasiswa dipandang sebagai instrumen penguatan keterampilan hidup, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, serta daya adaptasi di tengah dinamika sosial. Dengan demikian, kurikulum yang dirancang tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kapasitas intelektual mahasiswa, tetapi juga membentuk kepribadian yang tangguh dan berdaya saing.
Diskusi berlangsung secara konstruktif dengan berbagai pandangan yang disampaikan oleh para Dekan dan Ketua Program Studi. Seluruh peserta sepakat bahwa keberhasilan mahasiswa dalam menempuh pendidikan tinggi sangat bergantung pada pondasi awal yang kokoh. Penempatan mata kuliah wajib di semester 1–3 diyakini akan memberikan arah dan orientasi yang jelas bagi mahasiswa, sehingga mereka dapat menapaki proses pembelajaran lanjutan dengan lebih terarah dan matang.
Lebih jauh, forum ini juga menegaskan bahwa MK Wajib Nasional dan MK Wajib Institusi yang ditempatkan pada semester 1–3 merupakan bagian dari Program Perkuliahan Dasar Umum (PPDU). Program ini dipandang sebagai fondasi kurikulum yang wajib ditempuh oleh seluruh mahasiswa tanpa terkecuali, sebelum mereka memasuki tahapan perkuliahan inti sesuai bidang studi masing-masing. PPDU dirancang untuk memastikan mahasiswa UMU Buton memiliki bekal dasar berupa wawasan kebangsaan, pemahaman nilai-nilai keislaman Aswaja, kecakapan berkomunikasi, serta keterampilan kepemimpinan sejak awal perkuliahan.
Dengan penempatan PPDU pada semester awal, mahasiswa diarahkan untuk menumbuhkan kepribadian yang utuh: cerdas secara intelektual, kritis dalam berpikir analitis, dan kokoh dalam akhlak. MK Wajib Nasional menjadi instrumen penguatan identitas kebangsaan, sedangkan MK Wajib Institusi menjadi ciri khas UMU Buton dalam menanamkan nilai kewirausahaan, kepemimpinan, dan kearifan lokal. Dengan demikian, perpaduan keduanya akan menghasilkan mahasiswa yang memiliki pijakan akademik yang kuat sekaligus identitas moral dan sosial yang jelas.
Penegasan ini semakin memperkuat posisi UMU Buton sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mendidik untuk kepentingan intelektual, tetapi juga membentuk mahasiswa agar siap menjadi insan Rahmatan lil ‘Alamin yang bermanfaat di tengah masyarakat.
Rapat menegaskan pentingnya sinergi lintas unit dalam mengawal implementasi kurikulum, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Hal ini menunjukkan bahwa UMU Buton bergerak dengan pendekatan kolektif, di mana setiap elemen institusi memiliki peran dan tanggung jawab yang saling melengkapi.
Forum ini memberikan penguatan dari sisi administratif dan tata kelola akademik. Menekankan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum tidak hanya ditentukan oleh substansi materi ajar, tetapi juga oleh kesiapan sistem pendukung yang meliputi manajemen data, layanan akademik, dan pemantauan capaian pembelajaran. Dengan pengelolaan yang baik, seluruh rencana akademik diharapkan dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Lebih jauh, forum ini juga menjadi momentum penting untuk meneguhkan identitas UMU Buton sebagai perguruan tinggi yang berpijak pada nilai-nilai Islam Ahlusunnah wal Jama’ah, sekaligus mengintegrasikan kearifan lokal Buton dan visi global dalam setiap kebijakan akademiknya. Identitas ini dipandang sebagai kekuatan unik yang akan membedakan UMU Buton dari perguruan tinggi lain, serta menjadi modal utama dalam membentuk lulusan yang memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui kegiatan ini, UMU Buton menegaskan kembali bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik semata, tetapi juga dari bagaimana mahasiswa mampu menginternalisasi nilai-nilai integritas, tanggung jawab, serta kepedulian sosial. Dengan pondasi akademik dan moral yang kokoh sejak semester awal, diharapkan mahasiswa UMU Buton akan tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi perubahan global tanpa kehilangan jati diri dan akar budayanya.
Kegiatan sharing session ini sekaligus menjadi wujud nyata dari komitmen UMU Buton dalam menjalankan fungsi tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui perencanaan kurikulum yang matang, universitas berusaha mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas spiritual dan sosial.
Forum sharing session UMU Buton kali ini mengajak seluruh elemen sivitas akademika untuk bekerja sama secara berkelanjutan dalam mewujudkan visi besar universitas. Ia menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Penempatan mata kuliah wajib di semester awal mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan langkah strategis dalam membentuk generasi unggul di masa depan.
Sharing session yang berlangsung di Ballroom Al-Munawwara UMU Buton ini 23 september 2025 tidak hanya menghasilkan kesepakatan teknis mengenai penempatan mata kuliah, tetapi juga memantapkan arah perjalanan akademik universitas. Dari forum inilah lahir energi baru, semangat kolektif, dan optimisme bahwa UMU Buton akan terus menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi Rahmatan lil ‘Alamin: generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi peradaban.
Editor UMU Buton, Muh. Adil
