ar
en
id

Bahasa:

EKOLOGI RABBANI, MERAWAT BUMI DENGAN IMAN

Masjid Baitul Hikmah Universitas Muslim Buton kembali menjadi tempat digelarnya kegiatan Ngaji Rutin Kamis Siang, sebuah program pembinaan keilmuan dan spiritualitas Islami yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Islam dan Aswaja (LKIA) UMU Buton. Pada hari Kamis, 24 Juli 2025, kegiatan ini menghadirkan Ibu Dewi Asriani Ridzal, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Biologi, sebagai pemateri dengan tema kajian “Ekologi Rabbani: Harmoni Manusia dan Alam dalam Perspektif Islam”.

Acara ini dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Jasiyah ayat 1–8, sebagai pengantar yang menyentuh hati dan membuka ruang perenungan akan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Pembacaan ayat-ayat tersebut mempertegas hubungan antara wahyu dan fenomena alam, sekaligus menyiapkan suasana batin peserta untuk menerima nilai-nilai keilmuan dan spiritualitas yang disampaikan dalam kajian.

Dalam paparan yang komprehensif, Ibu Dewi Asriani Ridzal menguraikan bahwa ekologi dalam perspektif Rabbani bukan hanya sebatas relasi fisik manusia dengan lingkungannya, tetapi menyentuh hingga nilai-nilai spiritual yang mendasari cara manusia memperlakukan alam. Beliau menegaskan bahwa manusia diberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi, yang berarti bertanggung jawab atas keberlanjutan dan kelestarian alam.

Sayangnya, menurut beliau, meskipun amanah tersebut sangat mulia, kenyataannya manusia justru banyak menciptakan kerusakan di bumi. Dari eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pencemaran, hingga perubahan iklim, semua menjadi bukti nyata bahwa tanggung jawab ekologis belum sepenuhnya dijalankan secara sadar dan bertanggung jawab.

Lebih jauh, pemateri mengaitkan ekologi fisik dengan ekologi sosial. Harmoni bukan hanya dibangun antara manusia dan alam, tetapi juga antara manusia dan sesamanya dalam sistem sosial. Ia menekankan pentingnya keadilan sosial, solidaritas, dan empati sebagai bagian dari sistem ekologi yang sehat dalam pandangan Islam. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Aswaja, beliau mengajak peserta untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari lingkungan sekitar, baik fisik maupun sosial.

Kajian ini mendapat respon hangat dari para peserta yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan beberapa tokoh masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas Muslim Buton, memberikan tanggapan yang sangat mendalam. Beliau menyatakan bahwa tema kajian ini sangat relevan dengan tantangan global saat ini. Menurutnya, isu kerusakan lingkungan tidak hanya perlu direspon dengan pendekatan ilmiah dan teknologi, tetapi juga harus disertai dengan pendekatan spiritual dan moral. Universitas, sebagai institusi pendidikan, memegang peran sentral dalam membentuk kesadaran ekologis mahasiswa melalui pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keislaman.

Wakil Rektor I UMU Buton juga turut menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Ia menekankan bahwa forum ngaji seperti ini merupakan upaya nyata dalam membangun kesadaran kolektif sivitas akademika terhadap pentingnya menjaga bumi sebagai amanah dari Allah. Ia berharap kegiatan serupa terus digalakkan dan menjadi budaya akademik di lingkungan kampus.

Ketua Lembaga Kajian Islam dan Aswaja UMU Buton menambahkan bahwa kajian ini merupakan bagian dari program strategis lembaga dalam membumikan nilai-nilai Aswaja di tengah dinamika kampus. Menurutnya, pendekatan Aswaja yang moderat, inklusif, dan kontekstual sangat cocok untuk merespons isu-isu kontemporer, termasuk isu lingkungan dan sosial. Ia mengajak seluruh elemen kampus untuk menjadikan ekologi Rabbani sebagai paradigma dalam membangun tata kelola kehidupan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Indonesia Buton Institute (IBI), lembaga strategis yang juga turut berkontribusi dalam kegiatan ini, menyampaikan bahwa sinergi antara lembaga-lembaga di UMU Buton menjadi kunci keberhasilan dalam menghadirkan pendidikan Islam yang berwawasan ekologis. Ia menyatakan bahwa menjaga keseimbangan antara alam fisik dan lingkungan sosial adalah bentuk aktualisasi nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan tidak hanya harus menjawab kebutuhan pasar kerja, tetapi juga membentuk generasi yang sadar lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial.

Melalui kajian ini, seluruh peserta diingatkan kembali bahwa bumi adalah tempat tinggal bersama yang harus dijaga keberlanjutannya. Dalam Islam, menjaga alam bukan sekadar anjuran, melainkan perintah yang jelas dalam Al-Qur’an. Kesadaran ekologis harus dimulai dari kesadaran individu yang kemudian tumbuh menjadi kesadaran kolektif. Oleh karena itu, penting untuk menghadirkan diskursus lingkungan dalam setiap lini kehidupan kampus.

Kegiatan Ngaji Rutin Kamis Siang kali ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi antara keilmuan, keislaman, dan kepedulian sosial dapat dijalankan secara harmonis. Tidak hanya menjadi ajang kajian, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan membangun kultur akademik yang berpihak pada kelestarian lingkungan.

Acara ditutup dengan doa bersama agar seluruh sivitas akademika UMU Buton senantiasa diberikan kekuatan dalam menjaga bumi sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Dengan semangat kebersamaan dan kesadaran spiritual, diharapkan kegiatan ini menjadi titik tolak bagi UMU Buton untuk terus melangkah sebagai kampus yang ramah lingkungan dan berbasis nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Semoga semangat Ekologi Rabbani terus menyala dalam setiap langkah, agar manusia menjadi penjaga bumi, bukan perusaknya. Sebab, menjaga alam adalah menjaga kehidupan itu sendiri. “Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang” (HR. Tirmidzi).

Tags :
Bagikan :