Leader Forum Level Up Tuesday Mendorong Ekosistem Riset, Hibah, Kolaborasi, dan Hilirisasi
UMU Online Baubau— Universitas Muslim Buton terus membangun budaya akademik yang tidak berhenti pada aktivitas pembelajaran di ruang kelas. Melalui Program Level Up Tuesday – Kelas Inspirasi UMU Buton, khususnya sesi Leader Forum, kampus mendorong lahirnya ekosistem penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang lebih produktif, kolaboratif, terarah, dan berorientasi pada hasil. Salah satu gagasan strategis yang diperkenalkan dalam forum tersebut adalah Rumah Inovasi dan Kolaborasi Riset dan PkM UMU Buton, sebagai ruang bersama untuk memperkuat kapasitas dosen dalam menghasilkan proposal, memperoleh hibah, meningkatkan publikasi, membangun kolaborasi, hingga melakukan hilirisasi hasil penelitian.
Forum yang berlangsung di lingkungan UMU Buton tersebut dipimpin oleh Aliyaman, S.P., M.Sc., Ketua Tim Rumah Kolaborasi – Research & PkM Clinic UMU Buton, yang menjelaskan fungsi dan peran rumah kolaborasi sebagai instrumen penguatan ekosistem penelitian dan PkM. Gagasan ini bukan sekadar pembentukan sebuah ruangan atau unit kegiatan, melainkan upaya membangun budaya kerja akademik baru yang menjadikan penelitian, PkM, publikasi, hibah, HKI, jejaring, dan hilirisasi sebagai satu rangkaian yang saling terhubung.
Secara kelembagaan, Rumah Kolaborasi – Research & PkM Clinic telah ditetapkan melalui Keputusan Rektor Universitas Muslim Buton Nomor 341/UMU-R/KEP/IX/48/2026 tanggal 29 September 2026. Dalam keputusan tersebut, Rumah Kolaborasi diposisikan sebagai wadah kelembagaan pendukung pengembangan penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di lingkungan UMU Buton. Dokumen tersebut menegaskan kebutuhan pengembangan penelitian dan PkM secara terencana, kolaboratif, produktif, serta berorientasi pada luaran dan dampak.
Dalam pemaparannya, Aliyaman menjelaskan bahwa Rumah Inovasi dan Kolaborasi dirancang untuk menjawab persoalan mendasar yang sering dihadapi perguruan tinggi dalam membangun produktivitas riset. Banyak gagasan penelitian sebenarnya lahir dari para dosen, tetapi tidak semuanya berkembang menjadi proposal yang kompetitif, memperoleh pendanaan, menghasilkan publikasi, menghasilkan HKI, atau berlanjut menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Karena itu, diperlukan sebuah ruang yang memberikan pendampingan sejak gagasan awal sampai menghasilkan luaran yang dapat diukur.
Rumah Kolaborasi kemudian hadir sebagai clinical space akademik. Dosen tidak hanya diarahkan untuk menulis proposal sendiri, tetapi dapat memperoleh pendampingan, konsultasi, coaching, telaah proposal, diskusi, lokakarya, hingga membangun tim penelitian dan PkM kolaboratif. Keputusan Rektor secara eksplisit memberikan fungsi pendampingan penyusunan proposal, pengembangan proposal hibah, publikasi ilmiah, HKI, pengembangan program PkM, kolaborasi lintas dosen dan program studi, Research Collaboration Forum, jejaring dengan perguruan tinggi serta mitra eksternal, sampai fasilitasi hilirisasi hasil penelitian dan PkM.
Konsep tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan. Penelitian tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan individual seorang dosen, tetapi sebagai kerja akademik kolaboratif. Dosen dari bidang ilmu yang berbeda dapat bertemu untuk membangun proposal bersama. Program studi dapat saling menguatkan. Fakultas dapat membentuk kelompok riset. Mitra eksternal dapat dilibatkan sejak tahap perumusan masalah. Dengan demikian, potensi yang tersebar di berbagai program studi UMU Buton dapat dihimpun menjadi kekuatan institusi.
Dalam forum tersebut, Rektor UMU Buton turut memberikan penekanan penting mengenai kebutuhan melakukan lompatan dalam penelitian dan PkM. Perguruan tinggi tidak cukup hanya memiliki kegiatan penelitian secara administratif. UMU Buton perlu meningkatkan kualitas proposal, memperluas jejaring, membangun rekam jejak, dan secara lebih agresif mengejar peluang dana hibah penelitian dan PkM. Targetnya bukan sekadar semakin banyak proposal yang dibuat, tetapi semakin banyak proposal berkualitas yang mampu berkompetisi pada berbagai skema pendanaan.
Pesan tersebut menjadi penting karena kompetisi hibah penelitian dan PkM menuntut kualitas akademik, ketepatan masalah, metodologi yang kuat, luaran yang jelas, rekam jejak peneliti, serta kemampuan membangun kolaborasi. Karena itu, Rumah Inovasi dan Kolaborasi diharapkan menjadi mesin pendampingan yang membantu dosen bergerak dari ide menuju proposal, proposal menuju pendanaan, pendanaan menuju luaran, dan luaran menuju dampak.
Ketua Badan Penyelenggara UMU Buton, Ibrahim Marsela, dalam forum tersebut memberikan perspektif mengenai filosofi pendirian Rumah Inovasi dan Kolaborasi. Menurut gagasan yang disampaikan, pembentukan rumah tersebut lahir dari target yang lebih besar, yakni bagaimana UMU Buton dapat mulai memasuki level regional dalam memperoleh pendanaan penelitian dan PkM. Orientasinya adalah membangun keberanian institusi untuk memiliki target yang lebih tinggi, memperluas jejaring akademik, dan meningkatkan daya saing dosen dalam kompetisi hibah.
Filosofi tersebut sekaligus menempatkan penelitian dan PkM sebagai bagian penting dari perjalanan institusi menuju kualitas yang lebih tinggi. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajar dan meluluskan mahasiswa. Perguruan tinggi juga harus menghasilkan pengetahuan, inovasi, solusi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Di sinilah penelitian dan PkM menjadi salah satu ukuran penting kebermanfaatan perguruan tinggi.
Rumah Inovasi dan Kolaborasi juga dirancang memiliki etalase hasil riset dan PkM. Etalase ini menjadi ruang untuk memperlihatkan berbagai hasil penelitian, produk inovasi, model pemberdayaan masyarakat, karya dosen, publikasi, HKI, maupun produk lain yang lahir dari aktivitas akademik UMU Buton. Dengan adanya etalase, hasil penelitian tidak berhenti di dalam laporan, tetapi dapat dilihat, dikenali, dikembangkan, dan dikomunikasikan kepada sivitas akademika maupun mitra.
Selain etalase, terdapat pula konsep Hub Kolaborasi. Hub ini berfungsi sebagai ruang membangun jaringan antara dosen, program studi, fakultas, perguruan tinggi lain, dunia usaha, dunia industri, pemerintah, masyarakat, lembaga penelitian, serta berbagai mitra strategis. Keputusan Rektor sendiri menempatkan pengembangan jejaring kerja sama penelitian dan PkM dengan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dunia industri, masyarakat, lembaga penelitian, dan mitra lainnya sebagai bagian dari fungsi Rumah Kolaborasi.
Dengan demikian, rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat bertemu, tetapi menjadi simpul jaringan akademik. Dari jaringan dapat lahir kolaborasi. Dari kolaborasi dapat lahir proposal. Dari proposal dapat diperoleh pendanaan. Dari pendanaan lahir penelitian dan PkM. Selanjutnya, hasil penelitian dapat dipublikasikan, dilindungi melalui HKI, dikembangkan menjadi inovasi, dan dihilirkan untuk memberikan manfaat.
Komponen penting lainnya adalah pengembangan kompetensi Research dan PkM. UMU Buton perlu membangun kemampuan dosen secara berkelanjutan, mulai dari menemukan ide penelitian, menyusun proposal, memahami skema hibah, menyusun anggaran, membangun metodologi, menulis artikel ilmiah, mengelola luaran, mengembangkan HKI, sampai menyusun laporan dan melakukan hilirisasi. Dalam SK Rektor, tugas Rumah Kolaborasi juga mencakup konsultasi, coaching, klinik, lokakarya, diskusi, pembentukan tim kolaboratif, peningkatan kualitas proposal dan luaran, publikasi, HKI, serta pemantauan perkembangan program dan luaran.
Secara kelembagaan, struktur Rumah Kolaborasi juga menunjukkan pendekatan lintas bidang. Lampiran keputusan Rektor mencantumkan unsur pengarah dan pengelola yang berasal dari berbagai bidang ilmu, termasuk agribisnis, pendidikan matematika, administrasi pemerintahan, teknologi informasi, pendidikan biologi, bahasa dan budaya, agroteknologi, peternakan, manajemen, pendidikan guru sekolah dasar, geografi, hukum, olahraga, perdagangan internasional, dan kewirausahaan.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi tidak harus dibatasi oleh sekat program studi. Justru keberagaman bidang ilmu dapat menjadi kekuatan untuk menghasilkan penelitian yang lebih komprehensif dan PkM yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Bagi UMU Buton, Rumah Inovasi dan Kolaborasi merupakan langkah untuk membangun ekosistem dari ide sampai dampak. Ide tidak dibiarkan berhenti sebagai gagasan. Proposal tidak berhenti setelah dikirim. Penelitian tidak berhenti pada laporan. PkM tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Publikasi tidak berhenti pada artikel. Semua diarahkan agar memiliki kesinambungan dan manfaat.
Melalui Leader Forum Level Up Tuesday, pesan yang dibangun menjadi jelas: UMU Buton membutuhkan lompatan budaya akademik. Dosen perlu semakin berani berkolaborasi, semakin kuat dalam menyusun proposal, semakin aktif mencari sumber pendanaan, semakin luas membangun jejaring, dan semakin serius mengembangkan hasil penelitian menjadi inovasi yang bermanfaat.
Rumah Inovasi dan Kolaborasi akhirnya bukan hanya sebuah program baru, tetapi sebuah gerakan akademik untuk membawa UMU Buton menuju kapasitas penelitian dan PkM yang lebih kompetitif. Dari ruang inilah diharapkan lahir proposal-proposal berkualitas, kelompok riset yang produktif, kerja sama lintas institusi, publikasi yang semakin kuat, HKI, inovasi, serta produk PkM yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Itulah arah besar Rumah Inovasi dan Kolaborasi Riset dan PkM UMU Buton: membangun budaya akademik yang bergerak bersama, menghasilkan karya, memperluas jaringan, dan membawa UMU Buton menuju level regional dalam riset, PkM, dan perolehan dana hibah.
Berilmu • Berakhlak • Berkarya untuk Negeri.






